Minggu, 25 November 2007

Unhas Bersatu, Sebuah Mimpi

Aksi Demonstrasi mahasiswa Unhas dua Mei lalu masih jelas berbekas dalam benak saya. Betapa tidak, mahasiswa jaket merah kampus ini berupaya menyuarakan aspirasinya dengan menggelar aksi damai. Mereka berbondong-bondong menuju Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulsel. Kerelaan meninggalkan bangku kuliah, praktikum, asistensi, dan segala aktivitas belajar. Itu semua hanya untuk menuntut agar pendidikan di negeri ini diberi perhatian. Agar, mata para pejabat yang menikmati kursi empuk kekuasaan terbuka lebar. Khususnya menyangkut persoalan BHP yang-sebentar lagi akan diberlakukan. Jika benar terjadi, maka pupus sudah harapan pendidikan murah dan selamat datang pendidikan mahal.
Sekali-lagi, perasaan haru berkecamuk melihat semangat teman-teman mahasiswa yang turun aksi kala itu. Ada perasaan bangga. Apalagi saat orator seperti Wawan, Jihad, Somba, Ikbal, dll (semoga keselamatan selalu tercurah padanya) menggugah semangat mahasiswa. Berasal dari fakultas yang berbeda-beda. Sekat-sekat antar fakultas sepertinya luntur. Tak mengenal senior dan junior. Nampak juga para mahasiswa baru bercampur baur dengan sesamanya yang datang dari fakultas lain. Ada kebahagiaan saat bertemu sapa dengan teman SMA dulu. Sepertinya mahasiswa baru ini melepas kerinduan di kerumunan massa. Semua bersama dan bersatu menyuarakan penolakan terhadap pendidikan mahal.
Aksi ini melibatkan mahasiswa Unhas dalam jumlah besar setelah kasus penolakan terhadap kenaikan BBM 2006 lalu. Pun menyatu di bawah payung Aliansi Mahasiswa Unhas. Sebuah pertanyaan kemudian muncul. Kok tak bergerak di bawah bendera keluarga mahasiswa Unhas. Bukankah di kampus ini telah ada lembaga mahasiswa tingkat universitas. Apakah karena Kema Unhas tak mewakili empat belas badan eksekutif tingkat fakultas, atau Kema Unhas tak refresentatif hingga tak diakui, ataukah agar aksi ini juga bisa mewadahi teman-teman dari Sema FT, BEM Sastra, Sema Kelautan, dan BEM FKM. Entahlah..? Terlepas dari itu semua, yang pasti hari itu ada harapan untuk bersatu. Setidaknya hari itu.
Tapi, perasaan kecewa mulai muncul ketika hampir terjadi adu jotos sesama mahasiswa Unhas. Sekali lagi kita memperlihatkan betapa lunturnya kebersamaan yang coba kita bangun. Tak di dalam kampus, pun di luar kampus. Pemicunya bukan hal besar, namun persoalan BEM Unhas. Saat rombongan pertama yang membawa panji tiap fakultas berhenti di depan gedung dewan. Tiba-tiba dari arah belakang muncul peserta aksi yang tubuhnya dibaluti bendera Kema Unhas. Spontan saja, barisan paling depan kaget, lalu ada yang berteriak “Kenapa ada bendera BEM Unhas di sini,”. Beberapa orang pun mengejar dan meminta agar bendera itu dilepaskan. Untung saja masih ada kerelaan, dan jiwa besar hingga kericuhan tak berlangsung lama dan masalah itu selesai. Setelah itu, aksi kemudian dilanjutkan ke gedung dewan.
Saya kenal dekat dengan mahasiswa yang teriak pertama kali itu. Sejak berangkat dari kampus kami selalu bersama. Ia teman saya semasa di SMU 5 Makassar dulu (semoga keselamatan selalu tercurah padanya). Selepas aksi, kami juga pulang bersama. Dalam perjalanan, kami diskusi tentang kejadian tadi. Sebetulnya ia hanya kecewa pada BEM Unhas. Kenapa baru sekarang muncul. Lalu kemana BEM Unhas saat banyak mahasiswa Unhas yang diskorsing oleh pihak birokrasi kampus yang Sok!.
Selang beberapa hari kemudian. Suatu senja di pelataran PKM, saya juga bertemu dengan mahasiswa yang membawa bendera Kema itu. Ia juga kawan dekat saya di kampus, teman diskusi dan tempat minjam buku. ”Kok, kamu berani menerobos barisan depan dengan bendera BEM Unhas,” tanyaku. Ia lalu jelaskan semuanya. Baginya apa yang ia lakukan adalah bentuk ’gugatan’ terhadap perangkat Kema, termasuk Parlemen Mahasiswa, dan BEM Unhas yang tak mampu mewadahi aksi mahasiswa ini. “Mengapa harus ada lagi aliansi mahasiswa Unhas, padahal sudah ada lembaga tingkat universitas,” ungkapnya.
Mendengar penjelasannya, saya merenungi jika kedua teman saya ini sama-sama kecewa. Namun, melalui apresiasi yang berbeda. Tapi, kejadian itu sebenarnya hanya soal komunikasi saja yang tak sampai. Jika sejak awal dibicarakan, insiden yang hampir membuat sesama Unhas bentrok tak perlu terjadi. Semuanya kan bisa didialogiskan.
Berkaca pada insiden itu, sepertinya kita perlu merefleksikan setiap peran dan amanah yang diberikan. Merefleksikan nilai-nilai ’bersesama’ yang hilang. Pasalnya untuk kesekian kali kita belum bisa mengusung kata sepakat pada suatu hal.
Suatu saat mungkin kita perlu berterima kasih pada seseorang yang pertama kali menciptakan ungkapan Unhas bersatu, tak bisa dikalahkan. Sebab, kata-kata itu cukup hangat jika saja bisa terwujud. Semoga. Sebab ini hanya sebuah harapan.

ISMAWAN AS..www. mawo_as@yahoo.co.id

Tidak ada komentar: